Menu Tutup

Allah Pemberi yang Sangat Tepat (Pengalaman Pribadi)

allah pemberi yang sangat tepat

Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang. Allah ‘Azzawajalla sangat tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, untuk setiap makhluk yang Ia ciptakan. Seringkali manusia mengeluh atas hal-hal yang telah ditetapkan untuk hamba-Nya, padahal Allah pemberi yang sangat tepat. Mengeluh memang menjadi sifat manusiawi, manusia seringkali lupa bahwa Penciptanya lebih tau terhadap makhluk ciptaannya. Allah tahu waktu terbaik untuk makhluknya. Jika Allah takdirkan keterlambatan, sebaiknya berbaiksangkalah. Sebab bisa saja, doa-doa yang dipanjatkan belum terkabul sebab belum pantas untuk diujudkan, sebab belum siap, sebab belum terlalu kuat memikul bebab atau sebab-sebab lain yang menuntut kita untuk selalu belajar dan terus belajar.

Allah pemberi yang sangat tepat.

Suatu ketika saya terdiam, merenung sembari berfikir apa saja yang telah terjadi belakangan ini. Bagaimana waktu berjalan bersamaan dengan setiap kejadian yang saya alami. Jujur saja, apa yang saya capai saat ini sebagian ada yang sesuai rencana, sebagiannya lagi tidak sama sekali. Tetapi, rencana Allah sungguh indah, benar-benar indah.

Suatu kali, anak didik saya sewaktu PPL bertegur sapa via Whatsapp, awalnya ia meminta ringkasan materi yang saya share di status, kemudian ia berbagi cerita atas “ketidakadilannya” saat itu. Ia baru saja lulus dari sekolah tempat saya praktek mengajar dulu semasa kuliah. Ia hendak melanjutkan di SMA yang menjadi impiannya. Namun sayang sekali Ia gagal, dan tetangganya yang nilainya dibawah dia malah diterima di SMA yang sama. Sepertinya tidak adilkan ? Ia sangat kecewa sekali atas impiannya yang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Tapi pasti rencana Allah lebih baik dari apa yang kita rencanakan sebelumnya.

Hal yang menurut kita baik, belum tentu itu yang terbaik untuk kita. Sebab pencipta kita lebih tahu pada makhulnya. Mendengar cerita anak didik saya ini, saya jadi teringat kejadian-kejadian masa lalu saya yang tidak sesuai rencana tetapi ketetapanNya saat itu membawa saya pada hal-hal luar biasa saat ini. MaasyaAllah… Alhamdulilah.

Kembali ke masa lalu

Jika berbicara mengenai impian yang tidak sesuai rencana, saya jadi ingat masa lalu. Dulu saya ingin sekali kuliah di Bandung, kampus mana saja, asalkan di Bandung. Tapi setelah semua serangkaian pendaftaran kuliah dilalui, akhirnya saya kuliah di Tasikmalaya, dan sekarang saya sangat bersyukur sekali menempuh pendidikan tinggi di kota ini.

Kegagalan sebagai akibat dari ketidak sesuaian keinginan dengan apa yang terjadi justru mengantarkan saya pada rencana-rencana yang lebih indah. Saya bertemu dengan teman-teman seperjuangan semasa kuliah yang luar biasa. Mereka yang selalu saya kagumi atas kemampuannya, atas sikap kedewasaannya, atas keramah-tamahannya, atas segala hal yang membuat saya banyak belajar dari mereka.

Mengingat jaman kuliah dulu, rasanya saya ingin menulis nama-nama mereka satupersatu, mengucapkan banyak terimakasih sebab telah memberikan warna-warna yang sangat indah. Tetapi rasanya tulisan ini tidak akan cukup mengungkapkan bagaiamana rasa bersykur saya sebab telah bertemu dengan mereka. Lah kok jadi kayak kata pengantar gini ya hehe…

Saya berharap, saya masih bisa mendengar kabar dari mereka, mendengar berita baik atas pencapaian mereka. Terimakasih teman-teman seperjuangan, telah berbagi banyak hal hingga saat ini, telah memberikan bekas yang sangat luar biasa untuk diingat sepanjang hayat. Terimakasih pula telah sabar selama kuliah membersamai saya yang cukup menyebalkan ini hehe.

Mencari esensi kehidupan

Seiring berjalannya waktu, mimpi-mimpi baru muncul beriringan. Ada yang menggantikan mimpi yang lama, adapula yang muncul karena merubah tujuan alur kehidupan. Dulu semasa duduk di bangku Seekolah Menengah Atas, saya ingin sekali bersekolah setinggi mungkin, hingga menjadi seorang guru besar. Sampai-sampai, sebelum lulus S1 pun, saya sudah merencanakan S2. Klasik lahya.. masanya jadi mahasiswa baru, semangatnya masih menggebu-gebu.

Bangku perkuliahan mengajarkan saya banyak hal, hingga setelah lulus berkuliah, saya menemukan esensi kehidupan yang terbaik menurut saya. Selepas kuliah, Alhamdulillah Allah perkenannkan saya untuk menyempurnakan separuh agama, untuk beribadah sepanjang hayat dengan teman sewaktu SMA dulu. Dialah laki-laki yang sesuai dengan kriteria yang saya bisikkan dalam doa-doa pada Allah SWT.

Bahtera rumah tangga menjadi penyempurna separuh agama, sebab didalamnya penuh dengan ibadah yang dapat menjadi pahala, ladang amal untuk diakhirat nanti. Saya bersyukur dipertemukan dengan laki-laki yang senantiasa selalu belajar, ia tahu cara terbaik menghadapi tulang rusuknya yang bengkok. Jikalau dipaksa untuk diluruskan, maka akan patah.

Dari sini, saya menentukan kembali apa yang menjadi prioritas. Jika dulu hanya mengejar sebatas karir, saat ini saya memilih untuk tetap taat. Sebab saya lebih tau atas apa yang saya pilih, dan dari pilihan itu, saya sendiri yang bisa merasakan.

Ambil Pelajarannya

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi sampe sarjana, toh akhirnya jadi ibu rumah tangga juga”

“Kenapa ngga kerja? Padahal udah sarjana.”

Ada banyak pelajaran yang didapat ketika duduk dibangku kuliah. Sebab dari tahap ini, yang paling berharga adalah proses. Ketika kuliah, saya bertemu dengan banyak orang, dengan latar belakang yang berbeda. Dalam proses itu, kita sering bertukar fikiran, proses juga mengajarkan kita lebih dari materi perkuliahan yang cukup terbatas. Dari bangku perkuliahan, ada proses pembelajaran yang tidak dapat ditebus tanpa menempuh pendidikan tinggi.

Menentut ilmu sejatinya tidak bertujuan untuk bekerja. Begitupun ketika menempuh pendidikan tinggi, ilmu yang didapat akan menjadi bekal. Perkara bekerja, menjadi pilihan setiap individu. Kalaupun memilih untuk tidak berkerja, bukan berarti ia tidak beruntung, tetapi ada pilihan yang dipilih secara sadar. Setiap orang memiliki prioritas yang berbeda, dan setiap prioritas yang dilipih, memiliki jalan yang berbeda pula.

Omongan tetangga kadang memang cukup pedas, tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan sensitif seringkali terlontarkan. Kapan ini kah, kapan itu, kenapa ini, kenapa itu… dari sini kita mendapat pelajaran penting. Bahwa sebaiknya, hindari bertanya hal-hal yang bersifat pribadi, sebab bisa jadi menurut penanya itu pertanyaan biasa saja, tetapi menyakitkan bagi orang yang mendapat pertanyaan.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *