Menu Tutup

Journey : Nasihat Kehidupan Satu Dekade

Tulisan ini bermula ketika saya merasa miris sekali melihat konten anak didik yang saya ajar dulu di media social. Meskipun hanya hitungan jari saya mengajar di kelasnya, tetapi saya merasa gagal memberikan nilai-nilai kehidupan yang seharusnya menjadi bekal untuk masa labilnya sekarang ini. Maka dari tulisan ini, saya ingin membagikan sebuah nasihat kehidupan yang masih berbekas hingga saat ini. Nasihat yang di berikan oleh para guru-guru saya yang sangat luar biasa, sebab apa yang mereka berikan terpatri hingga lebih dari satu dekade lamanya. Journey – Sepenggal kisah tentang nilai kehidupan yang bertahan hingga lebih dari satu dekade

Ada pepatah mengatakan “hidup sekedar hidup, kera juga hidup”. Jika hidup hanya sekedar hidup, itu tidak akan cukup. Ada hal yang harus di kejar, ada esensi kehidupan yang seharusnya tertanam. Agar hidup tidak sekedar hidup, sebab kera juga hidup, ia hanya hidup untuk hidup saat itu saja, tanpa ada kewajiban berbuat lebih baik untuk kehidupan yang lebih kekal nanti.

Nasihat satu dekade

Journey

Saya merasa sangat beruntung, sebab telah menjalani kehidupan di Pondok Pesantren meskipun hanya dalam waktu 3 tahun. Pondok pesantren yang seringkali di sebut dengan penjara suci, sebab ada aturan yang harus di taati oleh setiap orang yang berada di dalam lingkupnya. Aturan tentang cara berpakaian, aturan agar tidak seenaknya meninggalkan tanggung jawab, aturan serta tata tertib yang dulu seringkali memberatkan, namun manfaatnya sangat terasa hingga saat ini.

Melalui tulisan ini pula, saya ingin berterimakasih kepada Ustadzah Ai Zakiyah sebab telah memberikan banyak nasihat ketika saya di Pondok dulu, nasihat yang masih berbekas hingga saat ini. Nasihat beliau yang menjadi “pagar” ketika melewati masa remaja yang amat rentan. Saya ingat betul nasihat beliau tentang apa yang bisa kita ambil dari hidup kita (naon araheun tina hirup urang). Kita tidak rupawan, kita bukan orang yang pintar, maka setidaknya kita haru menjadi orang yang baik, agar kebaikan itu bisa bermanfaat setidaknya untuk diri kita sendiri. Begitulah kurang lebih nasihat beliau.

Biasanya orang yang rupawan atau orang yang pintar dengan ide-ide briliannya memiliki keberuntungan yang lebih besar dalam alur kehidupan ini. Jadilah orang yang baik serta berilmu sebab dengan keduanya itu, hidup akan lebih berarti.

Ada pula nasihat beliau tentang menutup aurat. Bahwa ilmu agama yang di pelajari selama bertahan-tahun ini setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri. Salah satunya dengan berpakaian yang tepat, menutup aurat sesuai dengan syariat.

Masih banyak nasihat-nasihat ketika di Pondok dulu yang berbekas hingga saat ini. Nasihat itu di berikan ketika selesai mengaji kitab kuning di malam hari setelah salat magrib. Di mushala yang saat ini telah berubah menjadi asrama putri. Saat itu saya duduk di belakang berdekatan dina hijab beralaskan sajadah, setiap orang memiliki tempat duduk masing-masing dan kebanyakan tidak berpindah-pindah. Setiap tempat duduk memiliki kisah dengan tuannyanya sendiri. MaaSyaAllah :’))

Frekuensi

Journey

Qadarullah, kala itu saya di pertemukan pula dengan orang-orang yang baik. Mereka yang memiliki perangai baik, yang menjadi contoh untuk diri saya sendiri. Persentase pembentukan karakter akibat pergaulan saat itu cukup tinggi. Sebab pada masa itu adalah masa pubertas yang mudah goyah, mudah terombang-ambing oleh pergaulan. Terimakasih teman-teman.

Selepas lulus dari Pesantren dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), saya melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA). Dua jalur pendidik dengan naungan yang berbeda. MTs di bawah naungan Departemen Agama sedangkan SMA dibawah naungan Kemntrian Pendidikan dan Kebudayaan. Karena perbedaan ini tentu saja ada perbedaan dalam beberapa sistemnya.

Journey— Ada hal yang saya takutkan ketika hendak melanjutkan sekolah saat itu. Saya takut, ketika melanjutkan sekolah nanti, terlepas dari naungan pesantren, saya akan berubah dari diri saya saat itu. Perubahan yang terjadi akibat pergaulan. Salah satu yang paling saya takutkan adalah perubahan cara berpakaian.

Namun Qadarullah, ketika awal-awal masuk SMA, saya dipertemukan dan disatukan dengan orang-orang baik yang satu frekuensi. Sehingga cukup mudah bagi saya untuk istiqamah saat itu. Alhamdulillah.

Berbicara tentang dengan siapa kita bergaul, saolah membicarakan diri kita sendiri. Satu frekuensi. Sebab kita akan lebih nyaman apabila bergaul dengan orang yang satu frekuensi, tidak harus memiliki kesamaan yang sama, tetapi ada kesamaan yang membuat keduanya nyaman. Kita bisa dengan siapa saja berteman, tetapi sebaiknya selektif untuk memilih teman yang benar-benar dekat dengan kita.

Teman dekat bisa menjadi tolak ukur untuk diri kita sendiri. Dengan kata lain, jika kita ingin menilai karakter asli orang itu, kita bisa melihat bagaimana pergaulannya, bagaimana teman-temannya. Karena secara tidak langsung, teman mencerminkan karakter orang tersebut. Sebab apabila lingkup itu tidak mencerminkan dirinya, tentu saja ia tidak akan merasa nyaman berada dalam lingkaran pertemanan itu.

Nasihat untuk diri (self reminder)

Journey: Self Reminder. Melalui artikel ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang tidak sempat saya sampaikan dulu ketika menjadi seorang pengajar. Dulu saya hanya fokus bagaimana memberikan materi dengan baik, bagaimana mereka bisa dengan mudah menyelesaikan persoalan yang diberikan. Tetapi mengesampingkan pembekalan kehidupan yang di butuhkan pada masanya.

Journey — Sebagaimana apa yang dinasihatkan guru saya, dan telah saya paparkan diatas. Mulailah untuk bertanya pada diri sendiri, mau jadi apa, hal apa yang bisa di banggakan atas diri ini. Kebanggaan yang tentunya memberikan kebermanfaatan orang lain, kebermanfaatan yang bisa bertahan dalam waktu yang lama.

Mulailah untuk menentukan cita-cita, lalu mengejarnya melalui tindakan-tindakan yang nyata. Kejarlah apa yang menjadi tujuan itu dengan kesungguhan, dengan jalan yang tepat. Jangan hanya hidup mengikuti arus, pilihlah arus yang tepat dan tentukan tujuan.

Journey — Ada kehidupan yang kekal setelah kehidupan dunia ini. Dan cara yang tepat untuk mendapatkan tempat terbaik di kehidupan yang kekal nanti adalah dengan hidup berdasarkan aturan syariat yang diajarkan berdasarkan Al-Quran dan Hadist.

Jadilah orang yang baik, jadilah orang yang berilmu, jadilah orang yang berakhlak.

Tulisan ini pun menjadi self reminder. Sebab dengan menuliskannya, suatu saat ketika membacanya kembali, ada pesan kehidupan yang harus ditepati, ada tugas yang harus dijalankan, ada tujuan yang harus dikejar, ada aturan yang menjadi batasan.

Penutup

Sekian artikel mengenai Journey : Nasihat kehidupan satu dekade. Semoga artikel ini bermanfaat, dan menjadi pengingat khususnya untuk diri saya sendiri. Mohon maaf apabila dalam tulisan ini ada kesalahan baik dari segi isi maupun penulisan.

Journey — Ucapan terimakasih sekali lagi saya sampaikan untuk guru-guru saya. Semoga kebaikan mereka dibalas oleh Allah dengan limpahan keberkahan, limpahan kasih sayang, limpahan kebaikan serta limpahan rezeki. Terimakasih untuk ilmu kehidupan yang telah bertahan lama hingga lebih dari satu dekade ini.

More++

Jangan lupa untuk membaca artikel Pengalaman lainnya yang lebih menarik dan tentunya memberikan berbagai informasi. Jangan lupa juga untuk membagikan artikel ini melalui media social facebook, twitter, whatsapp serta media social lainnya. Lebih banyak yang tahu, lebih menarik bukan 🙂

Baca juga: