Menu Tutup

Pengalaman Naik MRT Setelah Resmi Beroperasi

pengalaman naik mrt jakarta

Pengalaman Naik MRT – Setelah MRT diresmikan untuk beroprasi pada tanggal 1 April 2019, bepergian dengan MRT menjadi primadona masyarakat jakarta. Dengan fasilitas berstandar internasional dan masih dalam kondisi baru, banyak masyarakat dari berbagai kalangan berbondong-bondong mencoba MRT.

Dalam kesempatan kali ini, penulis akan menceritakan pengalaman naik MRT setelah satu minggu diresmikan. Tepatnya pada hari Minggu tanggal 7 April 2019. Penulis akan berangkat menuju Stasiun Blok M dari Stasiun Fatmawati.

Berangkat dari Pondok Labu

Stasiun MRT terdekar dari Pondok Labu adalah stasiun MRT Fatmawati. Dari tempat tinggal penulis di Pondok Labu menuju stasiun MRT Fatmawati jaraknya hanya 1,1 km. Jarak ini bisa ditempuh menggunakan angkutan umum, bus transjakarta, go jek, grab ataupun dengan berjalan kaki. Kali ini penulis memilih untuk berjalan kaki.

sebelum berangkat, penulis menyempatkan dulu pergi ke kondangan di sebelah tempat tinggal penulis, alhasil berangkata menuju stasiun agak siangan. Penulis berangkat dari Pondok Labu pukul 11.31 menuju statiun Fatmawati. Berangkat dengan berjalan kaki karena dirasa dekat dan sambil berolah raga membakar lemak.

Matahari yang bersinar terik dan dijalanan yang cukup ramai, mengiringi penulis berangkat menuju stasiun MRT Fatmawati dari Pondok Labu. Selain itu, kondisi trotoar yang kurang terawat dan ada beberapa trotoar yang rusak, menjadi rintangan tersendiri.

Tiba di Stasiun MRT Fatmawati

Stasiun MRT Fatmawati berada diatas jalan, sehingga untuk masuk perlu melewati tangga. Setelah tiba di Stasiun MRT Fatmawati penulis disuguhi 2 jenis jalur menuju keatas, yaitu dengan menggunakan tangga dan eskalator. Untuk tangga digunakan bagi pengguna yang akan masuk dan keluar, Sedangkan untuk eskalato diperuntukan bagi pengguna yang akan masuk menuju Stasiu. Penggunaan eskalator ini lebih diutamakan bagi penyandang disabilitas.

Setibanya di Stasiun MRT Fatmawati, terlihat aneka warna dinding dari berbagai perusahan yang menjadi sponsor pembangunan MRT. Ada dari perusahaan air mineral, bank, jaringan seluler, dan masih banyak lagi. Tetapi itu tidak jadi masalah, dengan fasilitas yang masih baru terlihat bersih dan enak dipandang. Semoga kedepannya MRT di Indonesia tetap terawat sehingga nyaman dan menjadi transportasi primadona masyarakat DKI Jakarta.

Membeli Tiket

Penulis tiba di Stsiun MRT Fatmawati pukul 12.08. Sayang sekali, setibanya disana vending mechine atau mesim pembelian tiket sedang off dan loketnya sedang tutup. Tetapi untungnya ada satu loket lain yang masih buka, sehingga penulis perlu mengantri untuk membeli tiket. Baiknya, saat itu tidak telalu banyak pengunjung sehingga antrian tidak telalu panjang.

Kartu Jakcard

Selain membeli tiket ke vending mechine dan loket. Ada stan-stan berada di sekitar tempat pembelian tiket yang menyedikan kartu lain yaitu jakcard selain kartu jelajah untuk naik MRT. Selain naik MRT, katu ini juga bisa dipakai untuk naik bus transjakarta, pergi ke monas dan lainnya. Harga kartu ini relatif lebih mahal. Harganya Rp. 50.000,- dengan saldo didalam kartu Rp.30.000,-, artinya harga kartu Rp. 20.000,-.

Untuk mencobanya, suami penulis membeli kartu Jakcard. Kertu ini dirasa lebih efisien karena bisa digunakan untuk beberapa hal. Tetapi penulis masih merasa heran, kenapa semuanya tidak disatukan saja dalam satu kartu sehingga lebih efisien baik untuk pemerintah maupun untuk masyarakat.

pengalaman naik mrt
Foto Jakcard

Kartu Jelajah

Untuk naik MRT, pemerintah menyediakan tiket elektronik berupa kartu jelajah. Kartu ini dibuat hanya untuk naik MRT saja. Ada 2 jenis kartu yaitu kartu jelajah single trip dan kartu jelajah multi trip, perbedaannya sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya Cara Naik MRT.

Setelah difikir-fikir dengan beberapa pertimbangan, kali ini penulis akan membeli kartu single trip saja. Kartu ini harnganya Rp. 15.000,-. Bisa didapatkan di loket ataupun di vending mechine di setiap stasiun MRT. Sebelum membeli tiket kartu jelajah, penulis melihat pamflet tarif menuju setiap pemberhentian stasiun dari stasiun Lebak Bulus hingga stasiun pemberhentian Bundaran HI. Untuk tarif menuju stasiun Blok M dari stasiun Fatmawati Rp 7.000,-. Artinya penulis perlu menyiapkan uang Rp 7.000,- + Rp 15.000,-= Rp 22.000.

Penulis memulai untuk antri di tempat pembelian tiket. Setelah tiba giliran penulis, penulis ditanya oleh petugas tiket stasiun yang akan dituju. Penulis menjawab stasiun Blok M, setelah itu petugas memproses dan penulis hanya membayar Rp. 18.500,-. Awalnya penulis merasa heran, tetapi ada rincian yang tetera pada layar. Ternyata Rp. 18.500,- itu meliputi harga kartu Rp. 15.000,- dan tiket menuju Blok M Rp. 3.500,-. Mungkin sedang promo karena masih baru.

Pengalaman naik MRT menggunakan Singel Trip.

Naik Kereta MRT

Setelah tiket pada Kartu Jelajah didapat, selanjutnya penulis diarahkan menuju tempat menunggu kerta dengan melewati portal. Untuk melewati portal, cukup tap in pada tempat yang disediakan. Jika masih bingung, ada petugas yang bersedia membantu. Jika telah tap in, portal akan dengan otomatis terbuka. Satu kartu jelajah hanya bisa digunakan untuk satu penumpang. Maka penulis menggunakan kartu jelajah dan suami penulis menggunakan kartu Jakcard.

Ada beberapa eskalator menuju tempat menunggu kereta MRT, ini bertujuan agar memudahkan dan tidak membuat penumpukkan di tempat tunggu. Hanya butuh waktu beberapa menit, kerta MRT dengan tujuan akhir bundaran HI telah tiba.

Suasana di dalam Kereta MRT

Setibanya kereta, tanpa pikir panjang penulis dan suami langsung memasuki gerbong, kebetulan tidak ada penumpang yang hendak keluar. Penumpang yang berada dalam kereta cukup penuh, sehingga penulis tidak kebagian tempat duduk. Penulis memilih untuk berdiri memegangi pegangan dekat pintu keluar. Melalui jendela pada pintu, penulis dapat menikmati perjalanan dengan melihat pemandangan kota DKI Jakarta dari atas.

pegalaman naik mrt
Pengalaman naik MRT melihat Kota Jakarta dari Pintu MRT

Suasana didalam kerta cukup nyaman dengan AC 20 derajat Celcius membuat sejuk didalam kereta. Meskipin penumpang penuh, tetapi semuanya tertib mengikuti aturan. Penumpang yang duduk didominasi oleh kaum ibu-ibu dan yang sudah tua, meskipun beberap ada remaja.

Ketika hendak memegangi pegangan yang berada di atas, penulis cukup kesulitan karena terlalu tinggi, hingga penulispun harus berjinjit. Penulis merasa tidak nyamana dan lebih memilih untuk berpegangan pada suami. Tetapi untungnya, pegangan yang berada disampingnya tidak terlalu tingga sehingga bisa terjangkau oleh penulis.

Pada setiap stasiun pemberhentian, pengisi suara akan memberikan ucapan selamat datang kepada penumpang. Selain itu, memberitahukan stasiun pemberhentian akhir dan stasiun pemberhentian terdekat dalam dua bahasa, bahasa inggris dan indonesia. Menurut penulis, pengisi suara didalam kereta MRT seperti kurang profesioanl, sebab terdengan pelafalannya yang kurang dan suaranya yang kurang merdu. Mungkin karena masih baru sehingga petugasnyapun masih perlu pembiasaan.

Tiba di Stasiun Tujuan

Setibanya di stasiun pemberhentian, pengisi suara didalam kereta akan memberitahukan pintu mana yang akan terbuka, pintu kanan atau pintu kiri. Untuk pemberhintian stasiun blok M pintun yang terbuka adalah pintuk kanan. Setelah tiba, penulis dan suami bergegas untuk keluar dari gerbong kereta. Penumpang yang keluar dari kereta diutamakan dibandingkan yang masuk.

Untuk keluat dari area kerta harus melewati portal dan tap in terlebih dahulu. Penulispun tap in kemudian melewati potal. Ada dua jalur keluar dari stasiun, dengan menurun mengguankan tangga atau naik lift. Penulis lebih memilih menggunakan tangga sebab lisf diprioritaskan bagi yang mebutuhkan seperti penyandan disabilitas dan lainnya.

Penutup

Pengalaman naik MRT setelah satu minggu diresmikan telah dituliskan disini. Dengan fasilitas yang masih baru, lingkungan yang bersih dan enak dipandang memberikan kenyamanan bagi penulis. Selain itu tarif yang tidak begitu mahal, dirasa MRT ini cocok menjadi salah satu tranportasi yang direkomendasikan untuk menjelajahi kota Jakarta.

More++

Sekian pengalaman naik MRT dari penulis. Jangan lupa untuk membaca pengalaman penulis lainnya.

(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *